Lampung Geh, Bandar Lampung – Ikhtiar dalam menjaga diri kala pandemi COVID-19 memang tidaklah mudah. Berbagai cara harus dilakukan seperti mematuhi protokol kesehatan.
Tak hanya itu, melakukan Vaksinasi COVID-19 juga menjadi salah satu ikhtiar menjaga diri dari Virus Corona. Kita ketahui bersama, Virus Corona sudah ada di Indonesia lebih dari satu tahun.
Mirda Khamida (21), mahasiswi Jurusan Fisika FMIPA Unila, salah satu mahasiswa yang antusias mengikuti Vaksinasi Massal di GSG Universitas Lampung, Sabtu (26/6).
Mirda pilih Meja Vaksin yang Dekat Ruangan Vaksin Wanita
Mirda mendatangi GSG Unila sejak pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Seperti rekan lainnya, Ia mengantre di luar sebelum mendapatkan formulir. Setelah mendapatkan giliran masuk, Ia akan menuju meja vaksin nomor 6.Meja tim nomor 6 ini merupakan tempat untuk tahap vaksinasi yang paling dekat dengan ruang vaksin wanita. Lokasi ruang tersebut di sebelah kiri panggung dan sebelah kanan dari pintu masuk.
“Awal sebelum mau pilih di sebelah sana (sambil menunjuk Tim Vaksin 6),” kata Mirda.
Ruang vaksin wanita ini salah satunya diperuntukkan bagi wanita muslim yang pada umumnya menjaga aurat. Dengan kata lain, berpendirian tidak ingin auratnya dilihat lawan jenis. Apalagi di gedung tersebut masyarakat berjenis kelamin laki-laki sangat banyak.
Diarahkan Ke Tempat yang Jauh dari Ruangan Vaksin Wanita
Banyaknya massa yang mengantre untuk melakukan vaksinasi COVID-19 membuat Mirda terarahkan oleh petugas di tempat lain. Ia pun mendapatkan meja tim vaksin yang berada di sebelah kanan panggung. Dimana tempat tersebut jauh dari ruangan vaksin wanita.
“Sebelumnya mau antre di sana, terus diarahkan beda. Aku diarahin di bagian sini (sambil menunjuk Tim yang berada di sebelah kanan panggung),” tuturnya.
Petugas Tidak Mau Suntikan Vaksin di Ruang Vaksin Wanita
Saat giliran Mirda untuk disuntik, tak disangka petugas enggan untuk melakukan di ruang vaksin wanita.”Aku bilang ke ibu petugasnya kalau aku mau di ruang vaksin wanita itu yang tertutup, tapi Ibunya nggak mau,” kata Mirda.
Lantaran jauh meja vaksin dan ruang vaksin wanita, petugas menolak permintaan Mirda karena jarak yang jauh dan harus balik ke meja timnya kembali.
“Katanya capek harus ke ruang vaksin wanita itu, terus balik lagi ke sini,” kata Mirda.
Sempat berpikir untuk membatalkan vaksinasi COVID-19 di GSG Unila lantaran tempat yang tidak mendukung pendiriannya sebagai wanita muslim.
“Kalau di tempat yang ini (tempat meja vaksinnya) pasti terlihat orang lain (laki-laki). Apalagi ramai, di sini nggak cuma perempuan,” lanjutnya.
Mungkin sebagian orang menganggap hal ini terlalu berlebihan, tapi baginya hal ini sesuatu yang sangat wajar dan biasa bagi wanita muslim. Pasalnya, menutup aurat merupakan salah satu perintah Tuhannya, Allah SWT yang harus ditaati.
“Vaksin inikan salah satu usaha menjaga diri dari COVID-19 sebagai warga negara Indonesia dan tentunya ikhtiar menjaga tubuh yang merupakan pemberian Allah SWT,” kata Mirda.
“Tapi, tidak menjadi alasan kalau kita vaksin terus tidak berusaha juga menjaga aurat supaya tidak nampak dari lawan jenis,” lanjutnya.
Tidak Suntik Vaksin di Ruang Vaksin Wanita
Melihat kondisi yang ada, Mirda berpikir bagaimana ia tetap teguh dalam pendiriannya dalam menjaga aurat, tapi tetap memperhatikan kondisi petugas vaksinasi massal di GSG Unila.
“Memang bener, jarak meja vaksinku jauh sama ruang vaksin wanita. Alhamdulillah ada mba Naura (rekan Mirda). Jadi aku minta mba Naura nutupin saat aku divaksin supaya tidak terlihat orang lain,” ujar Mirda.Alhasil, Mirda dapat melakukan suntik vaksin COVID-19 dalam ikhtiar melindungi diri dari paparan Virus Corona dengan tetap menjaga auratnya supaya tidak terlihat oleh selain wanita muslim. (*)






















Discussion about this post