Lampung Geh, Bandar Lampung – Bukan tak mau vaksin, tapi susah cari vaksin. Kalimat tersebut yang kerap dilontarkan sejumlah warganet di kolom komentar info vaksin.
Bagaimana tidak, banyak imbauan untuk vaksin sampai berceceran informasi vaksin, tapi tidak kunjung didapatkan semudah itu. Ke sana ke mari, izin bekerja, mencoba antrean pagi, dan usaha lainnya sering berujung gagal vaksinasi.
Salah satu warganet yang menceritakan kisahnya adalah seorang perantauan di Bandar Lampung bernama Amrina (21). Ia merupakan warga Sungkai, Lampung Utara.
5 Juli 2021, Pertama Cari Vaksin
Amrina menceritakan perjuangan untuk mendapatkan vaksinasi yang ternyata tak mudah. Pertama kali ia pergi ke RS DKT untuk mengikuti antrean vaksin.
“Berangkat sekitar jam 9 lebih ke RS DKT ternyata kehabisan form, lanjutlah ke puskesmas-puskesmas yang ada di Bandar Lampung,” ungkapnya.
Selain itu, Amrina mencoba untuk vaksinasi di salah satu Puskesmas di Gedong Air. Namun, ternyata harus domisili Bandar Lampung. Bagi Amrina yang berdomisili di Lampung Utara mulai bertanya bagaimana dia bisa untuk vaksinasi di Bandar Lampung tempat ia merantau.
“Tapi, informasi yang aku dapetin itu vaksinasi nggak perlu di domisili tempatnya. Karena kan banyak perantauan, gimana mau kembali ke asalnya kalau syaratnya aja harus ada surat vaksin,” tutur Amrina.
Setelah tidak mendapatkan peluang vaksin di puskesmas tersebut, Amrina menuju ke Polresta Bandar Lampung. Dimana informasi yang didapatkan vaksinasi di Polresta tanpa domisili.
“Yaudah akhirnya ke Polresta, ternyata habis juga vaksinnya. Ya masih positive thinking lah maybe sebab kesiangan makanya ga dapet,” tuturnya.
9 Juli 2021, Pencarian Vaksin Kedua
Berprasangka karena terlalu siang ia mencari vaksin, Amrina mencoba peruntungannya lebih bagi di pukul 06.30 WIB.
“Karena mau ke RS DKT, aku sebelumnya nelfon call center RS DKT nanyain perihal ada vaksin gratis nggak hari itu dan katanya ada, yaitu daerah Kodim dan RS DKT,” katanya.
Dikabarkan ada, ia langsung menuju lokasi untuk mendapatkan vaksinasi tersebut. Sampai di sana, Amrina berpikir akan mendapatkan vaksin tersebut. Sebab, suasana sepi yang memungkinkan ia mendapatkan nomor antrean.
“Langsung lah kami menuju Kodim yang perkiraan kami bakal agak sepi nih kayaknya, eh sampai sana sudah lumayan ramai. Pas kami tanya ke salah satu Babinkamtibmas, ini vaksinnya itu untuk warga-warga yang memang dinaungi Babinkamtibmas-nya masing-masing gitu. Jadi melalui Babinkamtibmas udah ada suratnya begitu,” ungkap Amrina.
Setelah itu, tanpa berpikir panjang lagi Amrina menuju RS DKT untuk vaksinasi. “Gak nunggu lama akhirnya kami ke RS DKT lagi buat antre dan di sana udah antre panjang, yah ternyata kuota vaksinnya juga udah habis. Dengan rasa kecewa kami pulang,” lanjutnya.
12 Juli 2021, Pencarian Vaksin Ketiga
Pencarian ketiganya kini, Amrina berangkat lebih pagi. Pukul 05.30 WIB ia dan rekan-rekannya langsung ke Polresta. Di depan gerbang, nampak sejumlah orang juga menunggu untuk masuk wilayah Polresta karena ingin vaksinasi.
“Aku baru aja sampai sana eh malah udah pada bubar sebab di hari itu katanya nggak ada vaksin, katanya besok lagi baru ada. Akhirnya pada pulang semua. Ya kami pun kembali pulang dengan perasaan kecewa lagi dan lagi,” kata Amrina.
Namun, siang harinya ia mendapatkan kabar bahwa tetap ada antrean vaksinasi di tempat tersebut. Amrina pun heran, bukannya tadi dikatakan sudah habis.
“Dan yang paling bikin kesel ternyata di hari itu saya dapet kabar bahwa di Polresta ada vaksin. Gimana nggak kesel, kan katanya pagi-pagi masih sepi itu nggak ada. Kok malah ada pas siangnya,” ungkap Amrina.
13 Juli 2021, Pencarian Vaksin keempat
Keesokan harinya, Amrina mencoba lagi untuk vaksinasi. Dikatakannya kemarin bahwa besok ada, ia pun tetap kembali esok harinya.
“Pagi-pagi, kami langsung ke Polresta, sampai sana setelah apel polisi bilang hari ini tidak ada vaksin. Adanya baru besok hal ini disebabkan oleh vaksinnya belum tersedia,” katanya.
Namun, sebab kurang percaya karena kemarin dikabarkan habis ternyata masih ada. Amrina tetap mencoba untuk menunggu lagi.
“Oke deh tapi saya berfikir lagi, nggak mau tertipu dua kali, bilangnya gak ada vaksin eh ternyata ada. Masih lah saya nunggu di situ adalah sampai jam 7 lebih dari yang pagi banget tadinya. Karena beberapa orang masih di depan polresta, akhirnya polisi bilang lagi bahwa tidak ada vaksin sampai tanggal 20 katanya,” ungkapnya.
Setelah itu, semua orang di sana dibubarkan. Ungkapan rasa kecewa Amrina sangat dalam. Beberapa kali selalu tidak mendapatkan kesempatan, yang mana kerap membingungkan.
“Apa ini bener untuk umum? Kalo emang bukan untuk umum udah sih ngomong aja. Biar kami nggak perlu jauh-jauh mengeluarkan ongkos untuk antre. Orang lain pun sudah rela izin bekerja untuk vaksin tapi apa kenyataannya juga nggak dapet.
Ia juga mengungkapkan untuk tidak menutupi informasi yang ada. Tiap kali merealisasikan informasi vaksin, selalu dihadiahi harapan belaka.
“Kalau memang ada syarat tertentu untuk vaksin ya bilang aja. Kami masyarakat yang mau vaksin seolah tertipu dengan yang katanya vaksin gratis, vaksin umum, vaksin dimana aja boleh. Tapi nyatanya berapa kali gagal,” kata Amrina mengungkapkan kekesalannya.
Mencoba Vaksinasi di Poltekkes
Selain menuju tempat-tempat yang dikatakan sebagai lokasi vaksin, Amrina juga mencoba ikut vaksinasi dengan mengisi link vaksinasi Poltekkes.
“Saya juga sembari menunggu link vaksin Poltekkes, sudah stay dari pukul 12.50 WIB selalu pantau link dengan selalu refresh dengan maksud biar kebagian, soalnya minggu lalu hanya telat 3 menit dari jam 13.00 WIB saja sudah penuh kuotanya. Eh pas jam 13.00 WIB malah server down yasudah akhirnya saya lagi lagi belum beruntung,” ungkap Amrina
Mencoba Vaksinasi di Puskesmas Kampung Halamannya
Sering gagal mencoba vaksinasi di Bandar Lampung, Amrina akhirnya memutuskan vaksinasi di Puskesmas kampung halamannya. Lagi-lagi, ia harus menerima kenyataan tidak mendapatkan vaksin lagi.
“Yasudah mau gimana, ternyata di desa pun vaksinnya belum ada di puskesmas-puskesmas belum ada lagi yang dari Dinkes setempat,” ujar Amrina.
“Yasudah sampai saat ini saya bekum vaksin pertama,” katanya dengan rasa kecewa.
Harapkan Informasi Vaksin yang Valid
Berulang kali mencoba antrean vaksinasi dan selau gagal, tidak hanya dialami Amrina tetapi sejumlah masyarakat. Bahkan tidak sedikit warganet mengungkapkan kekesalannya karena informasi yang kurang begitu jelas.
Dikabarkan ada, tapi ketika dihampiri tidak ada. Dikabarkan untuk umum, tapi ketika dihampiri hanya domisili tertentu. Dikabarkan besok ada, tapi ternyata tetap tidak mendapatkan walaupun antre sesuai aturan mengantre.
Menurut Amrina, beberapa orang membutuhkan untuk perjalanan menyebrang ke Pulau Jawa. Bahkan, jikalau dirinya menggunakan transportasi Kereta Api pun harus menyertai surat vaksin.
“Bagaimana mau naik kereta yang harga lebih terjangkau, mau vaksin aja susah,” ujarnya.
Bagi Amrina, apabila ketersediaan vaksin itu memang menipis khususnya untuk di Lampung, ia berharap untuk diinfokan saja.
“Aku rasa kalo memang habis, dan belum ada lagi stok vaksin masyarakat juga bisa memahami dan tidak menyalahkan pemerintah khususnya di Lampung,” ungkapnya.
Tapi, lanjutnya, kalau dikatakan masih namun sebenarnya tidak ada itu seperti pembohongan publik. “Kayak kita diberi harapan palsu gitu. Jadi bukan kita gak mau vaksin, tapi susah cari vaksin,” pungkasnya. (*)






















Discussion about this post