
Lampung Geh, Bandar Lampung – Provinsi Lampung dipercaya menjadi tuan rumah dalam Pertemuan Komunitas Kelapa Internasional (International Coconut Community/ICC) ke-59.
Kegiatan yang dibuka secara langsung oleh Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan itu digelar di Hotel Santika, Bandar Lampung, pada Selasa (5/12) hingga Kamis (7/12).
ICC sendiri merupakan organisasi kerja sama antar negara penghasil kelapa yang diluncurkan oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) pada tahun 1969.
Organisasi ini dibentuk untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang produksi, pengolahan, penelitian, dan pemasaran kelapa dan produk kelapa.
Kerja sama tersebut di antaranya melalui fasilitasi pertukaran informasi, teknologi, statistik, program, dan proyek guna meningkatkan kesejahteraan petani dan pemangku kepentingan kelapa, serta pencapaian tujuan pengembangan kelapa yang berkelanjutan.

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengatakan, pertemuan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang inovatif dan aplikatif untuk meningkatkan permintaan produk kelapa dan turunannya di tingkat global.
“Indonesia mendorong sektor kelapa berkelanjutan, bernilai tambah, dan ujungnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Mendag Zulkifli Hasan usai membuka kegiatan tersebut.
Zulhas menyebut, sektor kelapa tak hanya industrinya yang dikembangkan, tetapi juga petaninya sehingga memberikan nilai tambah dan bermanfaat bagi petani.
“Jadi memang kita harus kembangkan industrinya, tapi harus memberikan nilai tambah, tidak hanya di pabriknya tapi petaninya juga dapat manfaat,” jelasnya.
Menurutnya, kelapa memiliki segudang manfaat dan jenis tanaman yang bisa melestarikan lingkungan. Oleh karenanya, perlu ditingkatkan.
“Yang paling penting di sini adalah bagaimana nanti pertemuan ini bisa memberikan nilai tambah kepada petani.
Bagaimana caranya? Meningkatkan produktivitas, bibitnya unggul, ada hilirisasi dan lain-lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi mengatakan, kelapa merupakan salah satu komoditi andalan utama dari Provinsi Lampung.
Saat ini, kata Arinal, total produksi kelapa di Provinsi Lampung mencapai 78.571 ton dengan luas area sebesar 89.673 hektare pada tahun 2022. Berbagai produk kelapa juga telah disalurkan ke pasar dalam negeri dan di ekspor ke berbagai negara.
Adapun negara tujuan ekspor produk kelapa secara utama adalah Amerika, China, Belanda, Jepang, dan Australia. Variasi produk kelapa dari Provinsi Lampung yang telah di ekspor di antaranya yaitu santan kelapa, karbon aktif, briket, sabut kelapa, kopra, nata de coco, minyak kelapa, kelapa utuh dan lidi nipah.
“Produksi produk kelapa ini didukung dengan sejumlah perusahaan industri besar pengolahan kelapa yang berada di Provinsi Lampung. Selain itu, melalui UMKM di Provinsi Lampung kelapa juga telah dimanfaatkan menjadi berbagai produk kerajinan di antaranya fashion dan home dekor,” kata Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.
Arinal juga menjelaskan jika saat ini Provinsi Lampung telah berkolaborasi dengan berbagai instansi, terutama Kementerian Perdagangan serta instansi terkait lainnya, dalam membantu penguatan pasar dari UMKM termasuk produk kelapa, di antaranya sertifikasi halal, pemberian pendampingan ekspor, dan kerja sama perdagangan antar wilayah.
Meski sebagai daerah penghasil kelapa, Gubernur Arinal mengungkapkan bahwa masih terdapat tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kelapa di Indonesia, termasuk Provinsi Lampung.
“Tantangan itu antara lain hama dan penyakit, alih fungsi lahan, dan lainnya. Selain itu belum optimalnya peningkatan nilai tambah produk atau hilirisasi untuk produk kelapa,” ungkapnya.
Oleh karenanya, melalui pertemuan tingkat Internasional ini , dia berharap seluruh stakeholder dapat bersinergi agar komoditi kelapa semakin berjaya, khususnya peningkatan produktivitas, memperkuat industri kelapa melalui diversifikasi dan hilirisasi produk kelapa yang dibutuhkan dunia.
“Saya berharap hasil pertemuan ini juga bisa diadaptasi untuk menjadi acuan Provinsi Lampung dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan produktivitas tanaman kelapa, peningkatan daya saing produk olahan industri kelapa, penguatan pasar, serta program lainnya yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani, dunia usaha, dan seluruh masyarakat,” harapnya.
Diketahui, saat ini, anggota ICC berjumlah 20 negara dan mewakili 86 persen produksi kelapa dunia. Selain Indonesia, anggota ICC lainnya yaitu Fiji, Filipina, Negara Federasi Mikronesia, Guyana, India, Jamaika, Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Kenya, Kiribat, Malaysia, Papua Nugini, Samoa, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste, Tonga, Vanuatu, dan Vietnam. (Lih/Put)






















Discussion about this post