Lampung Geh, Bandar Lampung – Universitas Lampung (Unila) terus mendorong terwujudnya desa ekowisata di Merak Belantung, Kabupaten Lampung Selatan, melalui kegiatan pengabdian desa binaan, Kamis (7/10).

Setidaknya ada empat tim pengabdi yang ditempatkan di Desa Merak Belantung yang berasal dari beragam disiplin ilmu, mulai dari ilmu sosial, hukum, dan kependidikan.

Salah satunya adalah tim pengabdi yang diketuai Prof. Dr. Yulianto, dengan tema pengabdian “Pendampingan dan Penerapan Community Based Tourism/CBT di Desa Merak Belantung dalam Mewujudkan Desa Ekowisata”.

Prof. Yulianto menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu Tri Dharma perguruan tinggi yang secara rutin dilakukan oleh Unila melalui tim pengabdi. Dan pada tahun ini, dipilihlah Desa Merak Belantung sebagai desa binaan.

“Desa Merak Belantung terpilih untuk dijadikan Desa Binaan Universitas Lampung melalui skema pengabdian desa binaan. Harapannya, desa-desa yang menjadi mitra dapat terbantu secara kelembagaan, professionalisme, maupun dalam menerapkan teknologi tepat guna,” ungkapnya.
Pengabdian desa binaan di Merak Belantung telah dilaksanakan selama lima bulan terakhir dimulai yang dimulai sejak April 2021.
Alasan Desa Merak Belantung yang berada di Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan tersebut dipilih sebagai desa binaan karena memiliki sejumlah alternatif wisata alami yang dapat dikembangkan menjadi desa ekowisata. Setidaknya terdapat lima potensi sumberdaya wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut di Desa Merak Belantung, di antaranya wisata ekosistem mangrove, aliran sungai mangrove, muara sungai dan pantai, kesenian tari, dan kerajinan tangan.
“Tim pengabdi telah melakukan banyak aktivitas mulai dari penyuluhan tentang CBT, pemetaan potensi desa, pendampingan penguatan kapasitas kelompok sadar wisata, hingga pemberian bantuan alat perlengkapan penunjang Pokdarwis,” jelas Prof. Yulianto.
Selain itu, terdapat alternatif pengembangan ekowisata yang mencakup aktivitas fotografi (photography), berenang (swimming), pengamatan burung (bird watching), berkano (canoeing), menyusuri hutan mangrove (mangrove walk), dan memancing (fishing). (*)





















Discussion about this post