Lampung Geh, Bandar Lampung – Sejak beberapa hari lalu, pemukiman warga di kawasan Teluk Lampung mengalami dampak air laut pasang atau yang kerap disebut dengan banjir rob, Senin (8/11).
Bahkan, jembatan untuk menuju Pulau Pasaran, Teluk Betung, beberapa kali didapati tenggelam akibat banjir rob tersebut. Sehingga, pada waktu tertentu warga kesulitan melewati jembatan tersebut.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Maritim Lampung memprediksi kondisi tersebut akan berlangsung hingga 9 November.
Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Lampung, Achmad Raflie Pahlevi. Senin, 8 November 2021 mengatakan kondisi tersebut diperkirakan mencakup tiga wilayah perairan, yaitu di Kota Bandar Lampung, Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, dan Labuan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.
“Jadi air laut pasang sudah terjadi sejak 6 November kemarin, dan akan berlangsung hingga besok. Tinggi air pasang maksimal mencapai 1,6 meter,” kata Raflie Pahlevi, Senin (8/11).
Menurutnya, banjir rob merupakan kejadian siklus bulanan. Hal ini diakibatkan sejumlah faktor, seperti pasangnya air laut dan siklon tropis. Siklon tropis sendiri merupakan suah jenis sistem tekanan udara rendah yang terbentuk secara umum di daerah tropis.
Apalagi, jika air laut yang pasang cukup tinggi disertai gelombang dan angin kencang bisa mengakibatkan kerusakan.
“Kalau untuk saat ini, banjir rob yang terjadi di sebagian wilayah Lampung akibat dari air laut yang pasang cukup tinggi. Jika tahun lalu disertai gelombang dan angin kencang jadi mengakibatkan kerusakan, dan tahun ini tidak,” lanjutnya.
Sampai saat ini, pihaknya pun tidak merima laporan adanya kerusakan. Hanya saja, sejumlah laporan masuknya air laut ke rumah warga dan nelayan yang tinggal di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung.
“Dari tanggal 6 kemarin dipastikan tidak ada laporan kerusakan yang masuk ke BMKG Stasiun Maritim Lampung. Biasanya ada laporan air pasang sejak pukul 19.00 WIB,” tutur Raflie.
Dalam kesempatan ini, Raflie turut mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir untuk tetap waspada akan datangnya air laut pasang. Jika keadaan tidak terkendali, ia berharap masyarakat segera lapor untuk penanganan lebih lanjut.
“Fenomena banjir rob ini bisa jadi siklus bulanan rutin seperti yang terjadi di Semarang, karena sudah banyak pembangunan-pembangunan yang tidak memperlihatkan alam sekitar. Jadi harus tetap waspada,” pungkasnya. (*)






















Discussion about this post