Lampung Geh, Bandar Lampung – Pelaksanaan simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di Bandar Lampung hari pertama memberikan kesan tersendiri sejak pembelajaran dilakukan secara daring dari Maret 2020 lalu.
Hari ini, Senin (13/9) merupakan hari pertama pelaksanaan simulasi PTM terbatas di Bandar Lampung di tengah pandemi COVID-19, tentunya setelah memasuki zona kuning dan PPKM Level 3. Sekolah tatap muka atau PTM terbatas ini tentunya cukup ditunggu-tunggu baik oleh siswa atau pun para guru.

Salah satunya adalah Dedi Cahayadi, guru PKn di SMP Negeri 2 Bandar Lampung cukup bersemangat mengajar secara tatap muka. “Senang pasti, kalau sudah begini kan bisa normal, dan mudah-mudahan bisa belajar tatap muka seperti biasanya lagi,” ujarnya saat diwawancarai awak media.
Meski mengajar secara tatap muka, Dedi yang sudah 20 tahun mengajar ini membawa serta ring light untuk penerangan sebagaimana belajar secara daring. “Ini (ring light) saya bawa supaya seolah siswa bisa melihat suasana di kelas meskipun mengikuti pelajaran secara daring,” katanya.
Meski sudah selama 1,5 tahun pembelajaran dilakukan secara daring, Dedi mengaku tidak ada kebingungan pada siswa selama simulasi PTM. Hanya saja, ada perbedaan situasi dan kondisi di ruang kelas yang dilakukan pembatasan dan harus memakai masker.
“Tidak ada kebingungan saya rasa, langsung menyesuaikan, tapi ada perbedaan sedikit karena biasanya tidak pakai masker sekarang pakai masker,” katanya.

Terpisah, Nazwa salah satu siswi SMPN 2 Bandar Lampung menyambut dengan senang hati adanya simulasi PTM terbatas ini. Dirinya juga telah dilakukan vaksinasi sebelum mengikuti simulasi PTM. Meski merasa agak canggung, Nazwa tetap menikmati suasana PTM bersama teman sekelasnya.
“Bingung enggak si, cuma karena sudah lama (sekolah daring) kan. Teman-teman juga masih sama dari kelas VII jadi udah kenal, guru-gurunya juga masih sama karena tetap ada pertemuan secara daring,” katanya.
Sebelum mengikuti simulasi PTM terbatas, Nazwa mempersiapkan diri dengan protokol kesehatan seperti masker, handsanitser, dan alat tulis. “Alat tulis kan bawa masing-masing, nggak boleh pinjem. Kalau seragam masih pakai yang lama, karena masih muat juga. Tadi pas berangkat diantar orang tua, pesanya tetap jaga protokol kesehatan, jangan buka-buka masker,” ungkapnya.
Siswa lainnya, Trisya mengaku lebih suka PTM daripada pembelajaran secara daring karena lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh guru. “Kalau tatap muka lebih paham pelajarannya dibandingkan daring. Temen-temennya juga masih sama jadi masih kenal,” katanya. (*)






















Discussion about this post