Lampung Geh, Bandar Lampung – Dinas Kehutanan melaunching brand produk hutan Lampung, healing forest, serta Tahura Eco Bee Park Lampung di Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rahman, Sumberagung, Bandar Lampung.

Acara yang digelar pada Minggu, 31 Oktober 2021 tersebut diikuti sejumlah pegiat wisata, akademisi, hingga BUMN. Kegiatan berawal dari peresmian rumah kemas madu sebagai pusat pemasaran komoditi hutan Lampung dan dilanjutkan dengan healing forest dan hiking menjelajahi hutan kemiri di Sumberagung.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansah mengatakan, soft launching healing forest, peresmian eco bee park dan brand produk hutan lampung dilakukan untuk mendorong upaya mempertahankan fungsi hutan yang masih baik melalui pemanfaatan intangible berupa wisata terbatas.
“Forest healing yang merupakan jenis ekowisata hanya bisa dilakukan jika kondisi hutan dipertahankan tetap baik, sehingga ketika masyarakat menyadari bahwa dari hutan yang masih baik dapat menghasilkan nilai ekonomi. Maka diharapkan akan terus dijaga bahkan ditingkatkan agar lebih baik,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon.
Lebih lanjut Yanyan menjelaskan, brand produk hutan Lampung merupakan inisiasi untuk menyatukan berbagai hasil produksi petani hutan. “Berbagai produksi petani hutan unggulan kita di 17 Kelompok Petani Hutan (KPH). Dengan demikian melalui brand ini kita dapat memberi indentitas pada produk tersebut, sehingga dapat dikenali, meningkatkan nilai jual, dan mensejahterakan petani,” jelasnya.
Kegiatan tersebut juga digagas dalam rangka Festival Wisata Hutan 2022 untuk mengekspos potensi wisata hutan yang tidak kalah indah dan menarik dengan wisata alam lainnya. “Kami menyadari ada banyak potensi ekowisata dalam kawasan hutan yang memiliki keindahan dan dapat dinikmati secara terbatas. Kami berharap, potensi tersebut dapat diekspos dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan serta mendorong masyarakat untuk mempertahankan fungsi hutan,” ungkapnya.
Sejumlah potensi wisata hutan yang bisa didapati di Lampung seperti air terjun, wisata minat khusus seperti hiking, dan lainnya. Sementara untuk hasil produksi dari KPH di antaranya, madu hutan, kopi, dan gula aren. “Sehingga diharapkan tahun 2022 dapat dilaksanakan festival wisata hutan Lampung,” pungkasnya. (*)






















Discussion about this post