Lampung Geh, Bandar Lampung – Jalani Isolasi Mandiri (Isoman) di Kota Bandar Lampung memang tidaklah mudah. Apalagi, bagi warga perantauan yang hanya hidup sendiri di Ibu Kota Provinsi Lampung ini.
Tri Eka Wahyuni (26), salah satu warga yang Isoman di kontrakannya Wilayah Way Halim, Kota Bandar Lampung.
Pertama Kali Terpapar COVID-19
Eka, panggilan akrabnya, menceritakan pertama kali ia mengetahui bahwa dirinya terpapar COVID-19. Ia menduga terpapar dari rekan kerjanya di kantor tempat bekerja.
“Awalnya itu, ada kawanku yang terkonfirmasi COVID-19. Habis itu kami diminta untuk Test Swab Antigen. Ternyata habis di tes aku sendiri yang positif,” ungkapnya.
Menurutnya, ia tidak pernah pergi bersama atau berkontak secara langsung dengan rekannya yang positif ini. Hanya beberapa kali saling berpapasan.
“Kalau nggak pas dia keluar kamar mandi aku mau masuk kamar mandi. Pokoknya cuma itu interaksi kita dan nggak secara langsung,” lanjutnya.
Eka Harus Isoman Walaupun Tak Bergejala
Setelah hasil Swab Antigen menunjukkan dirinya positif, pihak kantor menginstruksikan untuk dirinya melakukan Isoman. “Jadi dari itu aku isoman walaupun aku pun nggak bergejala,” ungkap Eka.
Di hari sebelum tes Swab, Eka tak merasakan apapun. Bahkan, setelah mengetahui ia terpapar COVID-19 juga tidak merasa gejala apapun.
“Rasanya itu ya kayak nggak sakit. Biasa aja pokoknya. Kondisi sehat gitu. Walaupun waktu Test Swab dikonfirmasi aku terpapar COVID-19. Jadi karena itu aku masuk kategori orang tanpa gejala (OTG),” kata Eka.Namun, keesokan harinya, Eka mulai merasa flu, batuk, hingga demam juga.
Harus Hadapi Gejala COVID-19 tanpa Perawatan dari Orang Lain
Awalnya tidak merasakan gejala, tapi akhirnya Eka juga merasakan gejala seperti pasien COVID-19 pada umumnya. Namun, dalam keadaan demam tiap malam disertai flu dan batuk, ia tetap harus mengurus dirinya sendiri.
“Semuanya tetap sendiri. Ya masak, beresin rumah, walaupun rasa badannya nggak enak. Apalagi kalau malem, demamnya kerasa banget. Rasanya dingin, tapi kalau pake selimut juga rasanya panas. Pokoknya serba salah deh,” kata Eka melalui sambungan telepon kepada Lampung Geh.
Hal itu Ia lakukan terus-menerus selama menjalani isoman karena COVID-19. Bagaimana tidak, ia hanya hidup sendiri di indekosnya tanpa sanak saudara. Jadi, apapun yang terjadi memanglah harus dijalani sendiri.
Demam 6 Hari sampai Tidak Bisa Mencium Bau dan Membedakan Rasa Makanan
Sejak satu hari setelah terkonfirmasi COVID-19, Eka mulai merasakan demam. Demam tersebut naik turun kurang lebih sampai 6 hari. Selain itu, flu dan batuk juga dialaminya.
Soal mencium bau dan membedakan rasa, awalnya Eka pikir itu efek dari flu dan batuk saja. Namun, sekitar hari ketujuh saat flu dan batuk itu hilang, ia baru merasakan kesulitan membedakan rasa dan mencium bau.
“Parfum yang biasa aku pake juga nggak ada baunya gitu. Terus rasa makanan juga hambar, kayak manis gula asin garem itu nggak kerasa,” ungkapnya.
Dibantu Orang Lain untuk Memenuhi Kebutuhan Pokok
Keadaan yang mengharuskan Eka untuk di rumah saja dan tidak bertemu orang lain membuat Eka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Aku kan lagi isoman, jadi nggak bisa kalo keluar-keluar mau beli kebutuhan pokok. Khawatir malah menular ke orang lain,” kata Eka.
Oleh sebab itu, setiap dua hari sekali Eka meminta bantuan temannya untuk membelikan bahan makanan dan menaruhnya di depan Indekosnya.
Menurutnya, kebutuhan bahan makanan saat Ia isoman lebih mengurangi pendapatannya. Apalagi juga harus mengonsumsi obat-obatan untuk meringankan gejala yang diderita berikut vitamin.
“Lebih besar pengeluaran pas isoman ini. Untuk makan atau kebutuhan pokok sendiri aja lebih-lebih dari biasanya. Padahal kan aku di rumah aja ya, tapi malah banyak pengeluaran,” ujar Eka.
Isolasi Mandiri saat Idul Adha
Saat Hari Raya Idul Adha pun tidak ada yang berubah. Tetap saja harus isolasi mandiri. Tidak bisa melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah, ataupun menikmati suasana Idul Adha di luar rumah. Eka tetap harus di rumah saja untuk isoman. Yang beda isoman hari biasa dan saat Idul Adha adalah mendapatkan daging kurban.
“Alhamdulillah, waktu Idul Adha kemarin itu ada yang nganter daging kurban. Jadikan bisa meringankan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Eka.
Soal pulang kampung pun Eka tidak bisa melakukannya. Lagi-lagi karena isoman. Ia hanya bisa berjumpa via online bersama keluarganya di Way Kanan.
Di samping itu, Eka berharap dirinya cepat membaik dan sudah terbebas dari COVID-19 ditubuhnya. Supaya dapat bertemu keluarga dan teman-temannya, bahkan bekerja seperti biasanya.
Salah Satu Penerima Bantuan Perantau Isoman dari Lampung Geh
Sebelumnya, Lampung Geh telah memfasilitasi para masyarakat khususnya di Lampung untuk membantu para perantau yang sedang Isoman. Pasalnya, Isoman saat bersama keluarga dan jauh dari keluarga sangatlah berbeda.Dari sejumlah donasi yang diterima Lampung Geh, diberikan paket-paket vitamin, susu, dan kebutuhan lain itu para isoman. Donasi tersebut masih berjalan hingga kini. Para dermawan yang ingin ikut berdonasi bisa klik di https://kitabisa.com/campaign/bantuperantaulampung. (*)






















Discussion about this post