Lampung Geh, Bandar Lampung – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung Deni Ribowo ikut menyoroti insiden pemukulan terhadap Nenek Lasmi (50) oleh Satpam RSUD Abdul Moeloek Kota Bandar Lampung.
Deni melakukan sidak langsung tanpa diketahui oleh manajemen rumah sakit. Salah satu yang ia perhatikan adalah CCTV yang berada di RSUD tersebut.
“Kita menemukan bahwa CCTV ini kurang. Artinya pengawasan. Ini hal yang sangat penting. Kami juga mendapatkan informasi tentang pasien dan keluarga pasien yang sering kehilangan,” ujarnya.
Hal ini juga mengakibatkan tidak terekam kejadian antara Nenek Lasmi dan Satpam IM yang berujung laporan polisi. Namun, ada sejumlah saksi yang menyaksikan insiden tersebut.
Deni juga mengatakan personel dari satpam untuk RSUD Abdul Moeloek yang seluas mencapai 8 Hektare ini masih kurang. Hanya ada 35 orang saat ini mengawasi rumah sakit dengan setumpuk permasalahan.
“Idealnya kalau dibagi satu regu berarti tujuh orang, idealnya satu regu 20 orang. Maka kami meminta menambah personel satpam menjadi 80 orang,” ungkap Deni.
Ia juga menginginkan ada berbaikan sistem dari RSUDAM untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, harapnya satpam juga diminta lebih humanis.
Selain itu, Deni menilik SOP RSUDAM yang harus dipertegas. Bahwa ini rumah sakit, tempat orang berobat. Selama Pandemi tidak boleh sembarang orang keluar masuk. Pasien juga tidak boleh ditunggu lebih dari satu orang.
Menanggapi soal pemukulan, menurut Deni ada penyebabnya. Walaupun tidak terekam CCTV, insiden begitu banyak saksinya. “Hal yang sebenarnya terjadi, itu karena reflek. Memang ada kontak fisik, tapi itu karena reflek,” katanya.
“Sebelumnya sudah ada teguran, informasi yang kita dapat. Beliau sebelumnya sudah diperingati untuk tidak berdagang di area rumah sakit. Karena dikhawatirkan bisa saja, membawa virus. Tapi karena ini sudah proses hukum di Polresta, ya silahkan saja,” tambahnya. (*)






















Discussion about this post