Lampung Geh, Bandar Lampung – Wali Kota Bandar Lampung meninjau pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi siswa tingkat SMP, yang dilakukan di 23 sekolah pada tahap pertama, Jumat (3/9).

Pada tahap pertama, ada 7.000 siswa kelas IX yang akan divaksin, yang berasal dari 23 SMP. Sementara jumlah seluruh siswa kelas IX di Bandar Lampung ada 17.000 siswa, dan akan divaksin pada tahap selanjutnya. Di Bandar Lampung terdapat 45 SMP Negeri dan Swasta.

Pada vaksinasi siswa serentak, wali kota Eva Dwiana meninjau beberapa sekolah yakni, SMP Negeri 32, SMPN 14, SMPN 2, dan SMPN 11 Bandar Lampung. Pelaksanaan vaksinasi pelajar tersebut juga dalam rangka mempersiapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

“Tahap pertama ini ada 7.000 siswa yang divaksin. Selanjutnya kalau datang lagi vaksin dari pusat, akan dilakukan lagi vaksinasi untuk siswa di sekolah masing-masing,” ujar Eva saat diwawancarai awak media.
Bagi anak-anak yang usianya di atas 18 sampai 25 tahun atau usia remaja bisa mendatangi fasilitas kesehatan Puskesmas terdekat. Dengan vaksinasi yang sudah dilakukan, Eva berharap anak-anak mampu menjadi Satgas di lingkungan terdekatnya.
“Setidaknya di rumah masing-masing. Kalau sudah dilakukan maka dapat mengingatkan prokes di rumah masing-masing. Dengan begini insyaa Allah kita dan lingkungan akan sehat semua,” kata Eva.
Eva menegaskan, vaksinasi pelajar ditargetkan selesai secepatnya, terutama jika sudah ada tambahan stok vaksin dari pemerintah pusat. “Kemarin juga pak presiden katanya vaksin untuk Provinsi Lampung akan ditambah dalam jumlah banyak. Dengan demikian mudah-mudahan semua masyarakat bisa divaksin,” tegasnya.
Siswa yang dilakukan vaksinasi COVID-19 merk Sinovac sebelumnya telah dilakukan pendataan oleh pihak sekolah, skrining kesehatan, serta mendapatkan izin dari orang tuanya untuk divaksin. Tak sedikit juga para orang tua yang mengantar dan mendampingi anaknya saat divaksin. Salah satunya Asri yang mendampingi sang anaknya, siswa kelas IX SMP Negeri 32 yang juga divaksin pada hari ini.
Asri yang merupakan warga perumahan Bilabong, Kecamatan Langkapura tidak keberatan anaknya divaksin. Dia juga berharap sekolah tatap muka bisa segera dilaksanakan. Pasalnya, selama masa sekokah daring, Asri sebagai orang tua merasakan kesulitan, terutama jika ada mata pelajaran atau tugas yang kurang dipahami oleh anaknya.
“Kita juga harus memberikan dorongan kepada anak agar semangat belajarnya. Karena di rumah aja mengerjakan tugasnya lambat, anak makin malas belajar, orang tua yang harus banyak memberi semangat,” ungkapnya.
Dia juga mengkhawatirkan kemampuan akademik anaknya sebagai siswa kelas IX yang akan melanjutkan ke jenjang SMA. “Karena anak saya ini sudah mau lulus SMP, Kalau pembelajaran kurang takutnya di SMA nggak bisa ngikutin pelajaran selanjutnya,” tukasnya.
Sementara itu, Ardana Ferdian yang merupakan salah satu siswa kelas IX SMP Negeri 32 mengatakan agak takut divaksin karena sudah lama tidak disuntik. Dan jika nanti sudah diperbolehkan sekokah tatap muka, Ardana akan mengikutinya karena sudah diizinkan oleh orang tuanya. “Kalau dari orang tua diizinin, tapi memang tadi agak takut karena sudah lama nggak suntik. Sehabis divaksin rasanya agak sedikit sakit,” katanya. (*)






















Discussion about this post