Lampung Geh, Lampung Selatan – Institut Teknologi Sumatera (Itera) terus berkembang menjadi pelopor bidang sains dan teknologi. Salah satunya melalui Prodi S1 Teknik Perkeretaapian (Railway Engineering), sebagai pendidikan teknik perekeretaapian modern pertama di Indonesia, Minggu (10/10).
Rektor Itera Prof. Mitra Djamal pada sidang terbuka Des Natalis ke-7 Itera, Rabu (6/10), mengatakan bahwa Itera memiliki semangat dan komitmen yang kuat pada pengembangan kepeloporan dalam bidang sains dan teknologi. “Hal itu kami buktikan dengan beberapa program studi baru kami dirikan, dan menjadi yang pertama baik di Sumatera ataupun Indonesia, di antaranya, Program Studi Sains Data pertama di Sumatera dan Program Studi Teknik Perkeretaapian menjadi yang pertama di Indonesia,” ujar Prof Mitra Djamal.
Lahirnya Prodi S1 Teknik Perkeretaapian di Itera secara resmi ditetapkan pada 5 Agustus 2020, juga atas dasar kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan, yakni dalam pengembangan jaringan perkeretaapian, termasuk di Pulau Sumatera atau Trans Sumatera Railway. Tidak hanya itu, Prodi S1 Teknik Perkeretaapian Itera digadang-gadang sebagai yang pertama di Indonesia, karena merujuk pada pendidikan teknik perekeretaapian modern.
Lalu, apa yang dimaksud dengan pendidikan teknik perekeretaapian modern? Kepala Prodi S1 Teknik Perkeretaapian Itera, Julison Arifin menjelaskan, yang dimaksud dengan pendidikan teknik perekeretaapian modern adalah pembekalan hard skill dan soft skill yang disesuaikan dengan kebutuhan masa depan serta mengacu pada digitalisasi jaringan perkeretaapian.
Setidaknya, menurut Julison ada tiga tingkatan dalam penerapan kurikulum pembelajaran, mulai dari ilmu dasar perkeretaapian, teknik perekeretaapian, dan profesi perketaapian. “Kurikulum kita secara garis besar mulai dari ilmu dasar, teknik-teknik perekeretaapian, dan profesionalismenya harus mutakhir. Jadi ada lima tren perkeretapian modern di dunia seperti digitalisasi, alternatif energi, kecepatan, otomatisasi, dan antisipasi terhadap perubahan iklim dunia,” jelas Julison saat diwawancarai Lampung Geh via telepon, Jumat (8/10).
Lebih rinci, untuk menciptakan lulusan Engineering Perkeretaapian Itera dengan kualitas unggul, mahasiwa diberikan mata kuliah unggulan. Mata kuliah unggulan yang dimaksud di antaranya, Industri Perkeretaapian (yang mengkaji operator perekeretaapian, proses manufaktur kereta api, konstruksi dan pembangunan perketaapian serta industri dan peralatan perekeretaapian), Komputer dalam Perkeretaapian (yang mengkaji internet of things dan big data, serta software perketaapian), dan Sistem Perkeretaapian Modern (mengkaji tentang kereta api ringan dan kereta perkotaan, kereta api kecepatan tinggi, dan kereta api masa depan).
“Kurikulum ini juga harus terus di-upgrade, supaya lulusan kita tidak tertinggal. Kalau biasanya evaluasi kurikulum dilakukan dua tahun sekali, mungkin bisa kita lakukan setiap tahun. Misalnya, mata kuliah yang sudah ada tidak perlu dihapus, tapi ditambahkan dengan mata kuliah terbaru tentang perekeretaapian, jadi lulusan kita semakin siap berkontribusi dalam memajukan perekeretaapian di Indonesia,” paparnya.
Saat ini, lanjut Julison, Prodi S1 Teknik Perkeretaapian Itera memiliki lebih dari 200 mahasiswa aktif, hanya dalam jangka waktu dua tahun penerimaan. Hal tersebut menunjukkan Prodi S1 Teknik Perkeretaapian sangat diminati. Maka, profil lulusan yang akan dicetak dari prodi ini tidak hanya dibekali hard skill engineering, tetapi juga soft skill.

“Pofil lulusan yang dicetak dari Prodi S1 Teknik Perkeretaapian Itera tentunya juga harus dibekali soft skill seperti good attitude, kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, kemampuan leadership, dan memiliki etos kerja yang tinggi sebagai harga diri seorang engineer,” jelasnya.
Demi mendorong lahirnya lulusan unggul, Prodi S1 Teknik Perkeretaapian Itera juga didukung dengan tenaga pengajar yang berasal dari akademisi seperti dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemudian tenaga pengajar dari profesional seperti dari PT KAI, PT Len, dan PT INKAI.
“Dengan dukungan para pengajar dan juga expert ini, kita bersama-sama komitmen untuk memajukan Teknik Perkeretaapian Itera. Kemudian, pengalaman dari para expert ini dipadukan dengan semangat muda dosen lokal, sehingga ke depan dosen muda ini akan lebih siap untuk menjadikan dosen lokal di Itera,” tandasnya.
Teknik Perekeretaapian Itera juga dilahirkan atas kajian pengembangan Jaringan Perkeretaapian Sumatera atau Trans Sumatera Railway. Maka, Itera dalam hal ini menjadi tuan rumah yang akan menyiapkan sumber daya manusia dengan keahlian perketaapian. Menurut Julison, sebagai tuan rumah tentunya akan lebih telaten dalam membenahi wilayahnya, ketika Kementerian Perhubungan dan PT KAI melakukan pengembangan rel kereta api di Sumatera.
“Jaringan rel di Pulau Sumatera masih ada gap, sekitar 1.100 kilometer belum tersambung. Maka Teknik Perkeretaapian Itera ke depan memiliki peran untuk membenahi ini, dengan dukungan dari pemerintah daerah tentunya, karena Itera ‘milik Gubernur di Sumatera’,” tuturnya.
Sesuai dengan visi “Itera untuk Sumatera untuk Indonesia”, lanjut Julison, lulusan Teknik Perkeretaapian Itera memiliki prioritas mengabdi di daerahnya. “Mahasiswa-mahasiswa dari Sumatera diberikan pendidikan untuk kembali ke daerahnya. Jika daerahnya belum ada railway, maka dia sudah siap mengimplementasikan keahliannya saat ada pembangunan. Misalnya dari segi pengawasan pembangunan akan lebih bagus, demikian juga dari segi pemeliharaan untuk daerah yang sudah ada railway,” pungkasnya. (*)






















Discussion about this post