
Lampung Geh, Bandar Lampung – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung buka suara terkait peristiwa yang dialami oleh Muhammad Akil (17), pelajar yang meninggal diduga akibat kekerasan saat kegiatan ekstrakurikuler bela diri.
Kabid Pembinaan SMK Disdikbud Provinsi Lampung, Zuraida Kherustika mengatakan bahwa Muhammad Akil meninggal bukan karena mengikuti ekstrakurikuler bela diri di sekolah.
Hal tersebut ia ungkapkan berdasarkan hasil penjelasan dari kepala sekolah, dan pengasuh asrama kepada Disdikbud saat ditemui di SMK Al-Hikmah.
“Kemarin kita langsung ke sekolah ketemu langsung dengan kepala sekolah dan beberapa waka dan juga langsung dengan guru ekstrakurikuler,” katanya.
“Intinya, kejadian itu bukan sekolah, itu bukan eskul. Anak tersebut mengikuti kegiatan (pencak silat) bersama masyarakat, cuman sekolah sebagai ketempatan lokasi pelaksanaannya saja,” lanjutnya.
Zuraida menjelaskan bahwa Muhammad Akil tinggal di asrama sekolah SMK Al-Hikmah dan mendaftarkan diri mengikuti perguruan silat di luar ekstrakurikuler sekolah.
Namun pihak sekolah mengaku tidak mengetahui bahwa Muhammad Akil mendaftar bela diri tersebut.
“Siswa tersebut dalam kondisi kurang sehat, tapi karena ingin sekali mengikuti ujian dan ingin mendapatkan sertifikat atau sabuk, dia ini tidak cerita kalau kondisinya kurang sehat, maka terjadilah seperti itu,” ungkapnya.
Setelah mengikuti ujian tersebut, pelajar tersebut mengeluh sakit perut dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Lalu, hingga akhirnya korban meninggal dunia di rumah sakit.
“Kalo liat dari keterangan sekolah, katanya infeksi itu bukan kata saya tapi sekolah kalau ada luka dalam itu,”jelasnya
Sementara itu, Sekretaris Dinas Disdikbud, Tommy Efra menambahkan terkait dugaan penyebab kematian, pihaknya menyerahkan ke forensik kepolisian.
“Karena kita tidak mempunyai kapasitas untuk itu dan kita menghormati proses hukum apa pun yang terjadi nanti biar hukum yang buktikan,” ungkapnya.
Namun, akibat kejadian tersebut, pihaknya akan tetap melakukan evaluasi meskipun sekolah tersebut milik masyarakat atau yayasan.
“Tentu akibat kejadian ini akan jadi evaluasi kami meskipun sekolah itu milik masyarakat yayasan dalam hal ini, kita evaluasi agar hal ini tidak terjadi lagi tidak terulang ini yang terakhir,” pungkasnya. (Yul/Put)






















Discussion about this post